Pages

Jumat, 04 Januari 2019

Perpecahan di Antara Kita



Al-Baqarah 2: 120

وَلَن تَرْضَىٰ عَنكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۗ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُم بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِن وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

Orang-orang nashrani dan yahudi tidak akan ridho sebelum anda mengikuti sistem kehidupannya.
“Millah” lebih kepada pola kehidupan. Kalau agama lebih disebut dengan Ad-Diin (3: 19). Milah adalah cara hidup, cara dia berekonomi, berpolitik, dll. Alquran disini memberikan statement bahwa mereka tidak akan senang kecuali mereka berada di atas dan jikalau bisa mereka yang mengontrol ummat yang lainnya. Bahkan mereka menggunakan perangkat-perangkat untuk menjual agama mereka dengan cara-cara yang dapat membuat orang lain pindah agama dengan harga yang sangat murah, seperti memberi mie instan kepada yang butuh sehingga dia pindah.


Kelemahan kita terkadang tidak melihat proses ini sebagai penguatan keagamaan kita. Bahkan politik pun,suasana potik, partai-partai politik yang mengaku muslim,sebetulnya itu adalah bagian dari cara seorang muslim untuk membela agamanya untuk membela agamanya. Jadi jangan sampai mereka menggunakan politik untuk menguluarkan orang-orang islam bukan hanya dari agamanya tapi juga dari kekuatannya dankeyakinannya terhadap islam. Sebaiknya partai-partai yang merasa islam menyatu, bersinergi, supaya bisa menghadirkan nilai-nilai kebaikan dari agamanya. Kalau kita bersatu maka tidak aka nada orang-orang munafik, yang banyak terpajang dispanduk-spanduk, terpecah belah, tidak sinergi yang satu dengan yang lainnya, ormas tidak berpran, sibuk bertengkar. Oleh karena itu kita harus lihat diri kita sendiri. Apakah ada yang salah dari kita sendiri?

Persolaan ini bukan persoalan baru, tetapi sudah muncul di zaman nabi saw. dan ketika telah turun ayat, persoalan ini selesai, tidak pernah lagi dibincangkan di masa sahabat, tabi’in, dan setelahnya karena semua sudah paham hukumnya. Sekarang Allah tunjukan tanda kepada kita dengan persoalaan seperti ini bukan hanya agar kita mencari solusi akan jawabannya tetapi peringatan dari Allah yang dahulu tidak pernah dibahas karena paham hukum tetapi kenapa sekarang banyak dibahas? Barang kali karena kita belum dekat dengan hukum-hukum Allah. Belum kenal dengan hokum-hukum Allah. Seharusnya setelah muncul penjelasan selesai. Orang dulu tidak pernah protes, tidak membahas lagi karena tahu hukumnya. Mereka belajar. Bukan hanya untadz, pedagang belajar Alquran, prmbisnis ikut talim, diplomat dan birokrat mendekat kepada tuntunan Alquran. Sehingga persoalan-persoalan yang dihadapi di masa lalu sudah dipelajari, ketika muncul tinggal dipraktekan hukumnya. Sekarang, persoalan yang sama, sudah belasan abad muncul lagi kemudian kita ramai mempersoalkannya, ini menunjukan bahwa kita masih jauh dari semangat Alquran dan sunnah Rasullullah saw. Sehingga diwujudkanlah persoalan ini (Fussilat: 53)

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ ۗ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ  


Kalu ada orang-orang sudah merasa jauh dari hokum Allah, kami akan tunjukan tanda-tanda kami dalam diri mereka dan di lingkungan sekitar mereka sehingga mereka kembali kepada hokum Allah yang benar.
Selibral-libralnya orang dahulu, mereka hafal Alquran, paham Bahasa arab, mengarang kitab tafsir, hafal hadits, dan disebut jarullah ‘tetangganya Allah’ (Bahasa kiasan karena rumahnya disekitar kabah); sedangkan liberal sekarang Alquran tidak hafal, hadits tidak tahu, Bahasa arab tidak paham tapi ulama dimarah-marahin.

Sumber: ust. Nababan & ust Adi Hidayat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar