|
enapa sih kita butuh rasul? Atau selama ini kita tidak butuh
rasul? Cuma butuh duit. Manusia jika melihat suatu yang gagah pasti kagum
karena manusia fitrahnya ingin serba dicukupi atau ingin menyebah atau juga
ingin memiliki sesuatu yang dapat mencukupi dirinya, ingin hidupnya teratur.
Seperti yang dilakukuan orang-orang yang menganggap suatu pohon dapat memberikan kecukupan. Kita tidak boleh
bercampur tangan dengan jin, karena memiliki ikatan yang kuat antara hidup dan mati.
Pembodohan yang luar biasa apabila kita menonton anime yang sebut saja Naruto,
banyak interaksi dengan jin, dalam dirinya ada kyubi yang bisa merubah dirinya menjadi monster. Nah
apabila orang kerasukan apakah dirinya bisa menjadi kuat? Lihatlah bagaimana
ritual-ritual yang dilakukan di film Naruto itu. Nah disangka generasi sekarang
telah ditipu-tipu bahwa Naruto itu berinteraksi dengan jin bahasanya, Cuma namanya
Jincuriki. Nah begitu juga One Piece yang sudah jelas makan buah “Setan”.
Naruto itu bagian dari bagaimana jin berinteraksi dengan manusia sehingga dia
mempunyai kekuatan lebih untuk melakukan di luar dari hakikat manusia.
لَاهِيَةً۬ قُلُوبُهُمۡۗ
وَأَسَرُّواْ ٱلنَّجۡوَى ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ هَلۡ هَـٰذَآ إِلَّا بَشَرٌ۬
مِّثۡلُڪُمۡۖ أَفَتَأۡتُونَ ٱلسِّحۡرَ وَأَنتُمۡ تُبۡصِرُونَ
Hati mereka
dalam keadaan lalai. Dan mereka yang zalim itu merahasiakan pembicaraan mereka:
"Orang ini tidak lain hanyalah seorang manusia [jua] seperti kamu, maka apakah
kamu menerima sihir itu [Al-Quran] padahal kamu menyaksikannya?"
(Q.S. Al-Anbiya 21: 3)
Dengan semua fitrah yang dimiliki
manusia, Allah menurunkan rasul dengan cara beribadah kepada sang kholiq yang
sesungguhnya. Bahkan nabi Adam saja yang Allah ciptakan langsung di surga yang
beranak-pinak, anaknya tidak dijamin masuk surga karena masalah hati adalah
urusan Allah. Apakah Allah meridhoi hatinya ataukah Allah tutup hatinya. Jangan
menjudge seseorang apabila orang tuanya seorang guru, ustadz, kiyai, dsb. Tapi anaknya
buruk akhlaqnya, lihatlah dari berbagai aspek orang tua, cara anaknya belajar,
lingkungan, dll. Siapa yang bisa jamin bahkan anaknya nabi Nuh as., ia bisa kafir
di saat-saat terakhir. Dari semua sifat dasar manusia itu, keberadaan Tuhan,
ingin mengakui adanya hal yang hebat yang patut disembah, dan yang ingin
mengatur hidupnya. Maka Allah mengutus rasul yang membawa hidayah bagaimana
fitrah manusia ini disalurkan dengan cara yang benar sesuai yang pencinpta
hendaki. Rasul ada yang diutus untuk
umatnya saja dan ada yang untuk global contohnya nabi Muhammad saw., bahkan ada
yang diutus untuk sekumpulannya saja. Jumlah nabi ada 128.000 dan rasul 315
diantaranya, itu semuya tidak dituliskan dalam Al-Quran. Hanya 25 nabi dan
rasul, bukan berarti yang tidak dituliskan mereka tidak mulia. Tapi itu yang
dianggap paling mulia.
Kita selaku harus ittiba’ul
rasul, untuk kita mengenal pencipta kita Tuhan kita. Dan salah satu sifat
manusia adalah sangat menyenangi siapa yang lebih darinya. Seperti misalnya
perempuan menyenangi perempuan yang cantik-cantik dalam hal bersolek dan
menyenangi laki-laki dalam hal pasangan. Kalau laki-laki idolanya adalah
prestatif, dia tidak mesti ganteng yang penting pinter dan pandai berusaha, dan
pastinya mengidolakan perempuan dalam hal jodoh. Rasulullah itu datang dengan
teladan akhlaq yang sempuran agar umatnya tidak lagi ada yang mengidolakan yang
lain. Yang seharusnya kita cantumkan dalam hati kita, seharusnya adalah nabi
kita dan cara mengenalinya dengan cara membaca shiroh. Mengenal lebih jauh
tentang Rasulullah bagaimana bersikap, bukan di web…, setelah dia menenal Allah
dan rasulnya pastinya dia akan beribadah dengan benar, shohihul ibadah. Nah itu bagaimana cara kita mengenal Rasul.
Definisi rasul adalah Arrasul dari
arsala menyampaikan dan nabi dari annaba anba a-yunbi u berita.
Nah rasul dari kata risalah menyampaikan suatu risalah yang sifatnya global.
Sedangkan naba hanya menyampaikan berita saja, ketika umatnya punya
masalah maka nabi itu punya solusi. Akan tetapi rasul tidak perlu umatnya
bertanya tapi dia langsung menyampaikan. Nabi hanya menjawab atau memberi solusi
terhadap masalah umatnya terkait masalah di lingkungan tersebut. Bahkan ketika Isra
wal Mi’raj, Rasul melihat ada nabi yang tidak mempunyai umat. Nabi Nuh
berdakwah secara terang-terangan ketika orang-orang sedang beraktifitas. Dan berdakwah
secara senyap bukan berarti berbisik, akan tetapi dengan cara mendatangi
seseorang di malam hari, disaat mereka sedang beristirahat, mereka akan
menerima dari pada saat mereka sedang bekerja. Dengan cara apapun nabi Nuh as.
sudah menyampaikan. Sembunyi-sembunyi, dengan arti door to door. Ketika kita berdakwah secara terang-terang ada
saja orang yang berani menentang dan ada pula yang ingin masuk islam. Kalo yang
ingin masuk islam tetapi dia takut dibenci masyarakat, dia tidak akan masuk
islam karena dia lemah kondisinya. Beda dengan saat door to door dia sebenarnya ingin masuk islam saat
mendengar dakwah, akan tetapi dia dalam kondisi lemah atau takut dibenci. Kalau
kita ingin berdakwah, caranya bukan memakai speaker tapi speaker bagian dari
dakwah. Paling bisa disentuh dengan cara sembunyi-sembunyi, kawan dengan kawan,
keluarga dengan keluarga. Begitu juga dengan Rasulullah yang pada saat itu
berdakwah secara terang-terang di depan umum keluarganya sendiri bani Hasyim,
Rasul bertanya apakah jika saya katakan di belakang bukit ini ada pasukan yang
akan menyerang kita, apakah kalian percaya? Percaya, maka bersaksilah bahwa
Allah adalah Tuhan kita dan saya adalah utusanya. Langsung dicerca. Itu semua
wajar, karena Cuma ada dua peluang yaitu orang yang menerima dan orang yang
menolak. Maka janganlah putus asa dalam berusaha karena selain gagal ada
berhasil yang akan kita dapatkan. Kalau kita berdakwah secara terbuka, maka
itulah cobaanya.
Dalam berdakwah kita harus
memperhatikan bahwa diri kita bukanlah nabi. Nabi pun sering ditegur oleh Allah
dan para malaikat. Rasul dan nabi yang diutus oleh Allah pastinya membawa sesuatu
yaitu sifat dan karakter yang kita ingat dengan sebutan FAST (Fathonah
Amanah Shidiq Tablig. Selain dia pintar dia juga amanah dan dia juga berani
menyampaikan apa yang dia yakini keyakinannya. Jika ada seseorang yang sudah
memiliki ke-empat sifat itu, apakah ia mempunyai mukjizat? . Nabi selain
memiliki empat karakter itu, mereka juga memiliki mukjizat sebagai tanda bahwa
dia memang utusan Allah agar tidak ada keraguan. Itu ditunjukan karena manusia
sifatnya visual ingin tahu. Nabi Muhammad saw., memiliki mukjizat yaitu
AL-Quran, membelah bulan, dan pernah bisa mengeluarkan air. Selanjutnya dia
selalu membawa nubuwah atau berita kedatangan, ada cerita-cerita yang di
masa depan akan terjadi. Setidaknya setiap nabi sebelum nabi Muhammad mengabarkan
adanya nabi dan rasul yang akan datang dalam kitabnya. Dalam kitab injil,
disebutkan ada yang namanya Ahmad. Dan setiap rasul pasti memiliki hasil
kerasulan, hasil yang gemilang yang pernah dia capai. Hasil itu tidak mesti
kejayaan tapi juga kesabaran yang tinggi seperti Nabi Nuh as. yang dicerca
dimana-mana. Masalah keberhasilannya kita tidak bisa menjudge. Karena
mereka hanya menjalankan perintah Allah. Dan selama ini Allah mencantumkan 25
nabi yang berprestasi, mungkin Allah mencantumkan mereka karena mereka
mempunyai prestasi hal-hal yang manusiawi yang dapat dicontoh oleh manusia.
Allah mencantumkan 25 itu agar kita memiliki motivasi untuk berhasil seperti
mereka. Mereka saja manusia yang sama-sama bisa mati tapi bisa sabar bisa
melakukan hal-hal yang luar biasa dan terlepas dari nabi Adam as., yang
ditirunkan oleh Allah karena kesalahannya dia. Tapi Allah menerima doanya
karena taubatnya dia bersama istrinya.
Selama ini kita tidak sadar bahwa yang paling ganteng bukanlah nabi
Yusuf as., akan tetapi nabi Adam as., yang langsung diciptakan oleh Allah.
Makanaturrasul. Rasul itu
terbagi dalam tiga. Pertama dia hakikatnya sebagai manusia, sebagai hamba, dan
dia juga sebagai pengemban risalah Allah. Sebagai hamba, dia mempunya
sifat-sifat yang sama dengan kita manusia, makan buang hajad, tidur, dan juga
nikah. Barang siapa yang tidak mengikuti sunnah-sunnahku, maka dia bukan bagian
dari ummatku. Termasuk menikah. Mati dalam keadaan bujang adalah hal yang
paling buruk walaupun ada beberapa ulama yang meninggal dalam keadaan bujang,
bukan berarti ada beberapa ulama yang tersohor yang dia tidak menikah karena
sakin mencintai ilmu. Karena mereka seorang ulama, kita tidak bisa menjudge.
Karena jasa mereka sangat besar beda dengan kita yang ngomong saya tidak
mau nikah, ingin mencari kekayaan dulu. Para ulama yang manfaatnya besar beda
dengan kita yang hidup mencari rizki menafkahi anak istri, mati, bunuh diri.
Dan juga dia mempunyai keturunan atau nasab yang jelas. Kalau keturunan nabi secara
penikahan nabi tidak ada, semua laki-laki dan semua meninggal, Hassan Hussein
terakhir. Adanya keturunan dari Ali. Dan
juga secara fisik, mereka mempunya mata telinga hidung dll. Dan dia tidak
bersayap. Dia sebagai manusia dan dia juga sebagai teladan, maka dia menghasilkan
sebuah shiroh nabawiyyah, jejak-jejak keteladan seorang nabi. Hasilnya adalah
shiroh. Dan dari shiroh menghasilkan fiqih shiroh yang menerangkan bagaimana
pengambilan hukum berdasarkan apa yang pernah Rasulullah lakukan. Fiqih shiroh
itu lebih mengglobal, bagaimana rasulullah menjalani pemerintahan, membentuk
bisnis, membentuk kaum intelektual.
Nabi Muhammad mengadakan yang
namanya sunnah, yang bisa masuk ke dalam lini-lini lain. Sunnah nabi yang
berisi ucapan ketetapan yang rasulullah sampaikan. Dan Rasulullah sebagai sarul
Allah, ia sebagai penyampai risalah menunaikan amanah dan pemimpin ummah. Zaman
sekarang nabi sudah tidak ada maka penerus nabi ialah para ulama. Barang siapa
menjalankan apa tugas-tugas nabi, menyampaikan risalah, mengajarkan kebaikan
sesuai syari’at, maka dia bagian dari penerus nabi walaupun ia belum tahapan
ulama, tapi dia sudah mencoba menjalankan sunnah-sunnahnya nabi. Berarti
apabila dia mati dalam menjalankan sunnah maka balasannya surga. Salah satu
tugas nabi adalah memimpin ummat, contohnya orang arab yang dulu tidak
diperhitungkan oleh orang-orang Persia dan romawi, yang dipandang orang Arab
adalah orang-orang yang kurang kerjaan yang kerjaanya ribut setiap kabilah,
sekarang menjadi ummat yang diperhitungkan. Tapi yang paling ditekankan adalah
bukan berarti ketika kita menjadi orang yang sukses, ummat islam menjadi orang
yang cauvinis, merendahkan orang lain, merendahkan ummat lain, golongan lain. Islam memang menggajarkan kita
prestasi yang tinggi, hasil yang terbaik, tetapi tidak menjadikan diri kita
lupa diri bahwa segalanya hanya milik Allah, semua yang terjadi itu karena izin
Allah. Dari menyampaikan risalah, memimpin ummat, akhirnya menghasilkan fiqih
dakwah. Berdakwah dengan cara yang ahsan . Qowaidudda’wah ilallah .
Jangan anggap membaca shiroh
adalah sebuah tugas. Anggap saja itu sebagai kewajiban kita untuk mengenal
rasul kita.
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar