Pages

Minggu, 27 Desember 2015

Asyiknya Bersama Quran




-Kisah seorang anak SMA Negeri menghafal Al-Quran

            Rasanya memang berat untuk dihadapi tapi aku harus menjalaninya karena bisa jadi inilah yang terbaik dari Allah. Aku teringat tentang firmannya pada pertengahan juz dua yang berbunyi:

كُتِبَ عَلَيڪُمُ ٱلقِتَالُ وَهُوَ كُرهٌ لَّكُم‌ وَعَسَىٰٓ أَن تَكرَهُواْ شَيـًٔا وَهُوَ خَيرٌ لَّڪُم‌ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّواْ شَيـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُم‌ وَٱللَّهُ يَعلَمُ وَأَنتُم لَا تَعلَمُونَ 



“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah 2: 216)

            Banyak orang yang mudah sekali menghafal quran. Aku menjadi iri kepada mereka walaupun aku pun mampu menghafal dengan cepat tetapi kondisi berbeda saat menjelang UN, teman-teman ku sibuk mencari sekolah untuk melanjutkan pendidikannya masing-masing. Ada yang ingin melanjutkan menjadi seorang santri  atau ada yang pindah ke pesantren lain dan ada pula yang memilih sekolah negeri salah satunya adalah aku. Awalnya memang bosan sekolah di pesantren dengan keadaannya yang selalu ditekan tapi aku suka dengan pelajaran-pelajarannya. Ummiku bilang lebih baik melanjutkan pesantren karena biayanya lebih murah dan sisanya bisa dipakai untuk ade masuk sekolah tapi aku berpikir pindah pesantren biayanya mahal dan tapi melanjutkan di pesantrenku saat ini lebih murah tapi lebih murah lagi apalagi aku masuk negeri. Dari itulah aku termotivasi untuk membanggakan orang tua tapi orang tua ku takut kalau aku terbawa arus keremajaan masa kini. Sebenarnya sih aku memang mau bebas tapi aku akan berusaha menghindari semua itu. Pada hari penjengukan aku bercakap-cakap dengan orang tuaku yang membuah hasil kan perizinan untuk masuk sekola umum, masalahnya adalah sekolah favorit dan aku belum tentu akan mendapatkan yang terbaik tapi semua itu urusan Allah dan aku tinggal berusaha sekeras mungkin.

            Hari-hari menjelang UN kujalani dengan belajar penuh. Di atas kasur, di lorong asrama, di masjid, di taman, di ruang makan, bahkan di kamar mandi aku bawa terus buku demi tercapainya tujuan yang aku harapkan. Sudah menjadi hal yang biasa seorang santri membawa buku kemana-mana. Saat makan pun mereka belajar bahkan saat mengantri giliran mandi mereka belajar. Setiap malam kelas 9 selalu berada di masjid untuk memurajaah pelajaran yang telah diajarkan oleh guru selama 3 tahun. Aku bersama temanku seorang yang sangat alim belajar hingga larut malam dan selalu diakhiri dengan sholat witir. Memang kebiasaan ku adalah mencari teman yang pintar dan alim lagi perhatian kepada temannya. Aku mendapat banyak pelajaran darinya, semua yang di ajarkan olehnya dapat ku cerna. Dia juga mengajakku untuk berpuasa daud saat UN tetapi sebelumnya aku memang sudah berniat puasa daud dari sebelum UN.

            Ujian nasional ku jalani dengan tenang dan semangat untuk mencapai tujuan. Walaupun aku terbiasa mengerjakan ulangan sangat lama bahkan seringsekali setiap ujian aku terakhir keluar tapi aku jalani dengan sabar yang penting nilai alhamdulillah. Dan ketika nilai telah keluar, alhamdulillah aku mendapatkan hasil yang memuaskan dan cukup untuk masuk sekolah negeri yang aku harapkan dan dari langkah yang kuambilah aku mendapatkan cobaan yang lebih berat. Cobaan yang bersangkutan dengan amanah dan juga kewajiaban. Hafalanku saat keluar dari pesantren sudah 11 juz, sulit sekali mempertahankannya karena medan juang yang berbeda dan penuh tantangan. Ada yang bilang apabila melihat lawan jenis maka hafalan akan hilang, itulah yang membuatku takut dan penuh antisipasi terhadap hal itu. Awalnya aku berpikir akan lebih bebas dibandingkan saat dipensantren. Ternyata tidak, banyak sekali tugas yang di berikan oleh guru dan besar pula amanah hafalan yang aku pikul. Tapi semua itu aku jalani dengan sabar karena semua itu sudah rencana Allah dan itulah yang terbaik darinya. Sempat saja aku melupakan hafalanku setelah agak lama aku duduk di SMA. Saat itu aku mengikuti ekskul paskibra, awalnya aku kagum dengan anak-anaknya yang selalu tegas dan ternyata ada temanku sekelas yang mengikuti ekskul paskibra mengajak ku ukntuk bergabung. Ordikpun diadakan. Awalnya memang aku sudah tahu kalau itu ordik tapi banyak temanku yang tidak mengetahui itu tapi memgamggap bahwa itu hanya kemping biasa. Ordik aku jalani dengan semangat dan bismillah . Setelah resmi menjadi anggota paskibra bukannya semakin lega tetapi semakin terjepit, mulai dari tugas dan perintah senior yang datang bertubi-tubi entah kapan waktunya. Aku berpikir bahwa yang aku ambil ini salah tapi aku lhat ke sisi lain banyak sekali manfaat yang didapat tetapi aku mulai keteteran dan semakin terkikislah hafalanku. Ada tiga atau dua juz yang lupa.

Hari-hari kulewati dengan terus mempertahankan hafalanku, sekali-kali aku mencari waktu untuk mengahafal walaupun bertentangan dengan perintah senior tetapi aku selalu akan berusaha untuk tidak melanggar. Senior juga manusia dan mereka pasti punya hati untuk mengerti dan selain guru mereka juga yang mendidik ku. Suatu hari ada pertemuan  bersama senior dan juga alumni. Di saat susahnya aku menjaga hafalanku ada sepatah kata yang terlontarkan dari seorang alumni yang hingga saat ini ku ingat.

“Hafiz di pesantren itu biasa tapi menjadi seorang hafiz di luar (pesantren) itu luar biasa”.

Begitulah kata-katanya dan aku mulai bersemangat menjadi seorang hafiz walaupun banyak cobaan yang akan menghadang.

Sebentar kita tinggalkan masalah ekskul. Dari semenjak SMP aku memang susah belajar kecuali ada teman yang memang perhatian dan bersedia untuk membantu. Di kelas 10 aku selalu saja mendapat nilai jelek. Sekali atau dua kali saja aku mendapat nilai yang lumayan, tapi itu semua bukan menjadi penyesalan tetapi motivasi untuk bangkit. Aku sadar mengapa nilaiku turun, dan itu disebabkan karena aku mekinggalkan hafalan ku. Memang banyak sekali hafalan yang aku tinggalkan. Ketika hari pembagian rapot menjelang, aku menunggu nilai hasil belajarku dan ternyata semuanya jelek. Orang tuaku hanya diam dan tidak memarahi tetapi dirikulah yang memarahi. Aku bertanya-tanya kenapa bisa seperti ini? Kenapa bisa aku selemah ini? Apakah ada masalah dengan imanku? Apakah ini salah scanner atau gurunya? Tapi aku ingat perkataan mentor ku

“Proaktif!! Jangan salahkan orang lain tapi lihatlah diri sendiri”

Dengan bismillah aku rubah semua yang jelek dalam diriku aku buat kebiasaan baru yang antimeinstream dikalangan remaja SMA. Seringkali aku menghafal membaca quran di kelas, untungnya tidak jadi perhatian banyak orang tapi malah banyak yang mengikuti. Ya memang tidak jadi perhatian sekelas karena aku menghafal tidak dibaca dan tidak ketahuan oleh banyak orang sedangkan orang yang membaca quran dengan cara melihatnya ia akan terfokus dan orang lain akan memperhatikannya. Itulah menjadikanku bersemangat karena sifat teman yang mendukung. Setiap sore selepas ashar aku juga sering duduk-duduk menyindiri di lantai empat masjid sekolahku sambil murajaah. Menghafal butuh ketenangan dan di lantai empat masjidlah aku menemukannya suasana yang sejuk dan juga bisa melihat banyak orang yang sedang melakukan kegiatan ekskulnya. Dengan kesibukan inilah aku bisa menghindari virus yang meraja rela dikalangan remaja, bisa dikenal dengan sebutan virus “merah jambu”. Aku memang beranggapan apa guananya pacaran kalau jodoh sudah ditentukan dan apa gunanya pacaran jika mengharapkan wanita yang sholihah sedangkan tidak ada wanita sholihah yang pacaran karena dia tau betul kedudukannya dan selalu menjaga izzahnya.

SMAku ini berbeda dari SMA lain, bisa juga disamakan dengan pesantren karena  rohisnya yang aktif dan dari rohis itulah aku tergerak. Banyak teman-temanku yang lebih pintar dariku dalam hal agama. Ngga salah, emang aku di pesantren anak bandel yang selalu melanggar peraturan. Dari mulai shiroh nabi hingga hadits mereka hafal. Tidak hanya itu karena ini adalah sekolah yang dianggap unggulan, mereka juga maju dalam akademik pelajaran umum. Kegiatanku di rohis membuat aku semakin meninggalkan kegiatan di ekskulku. Si rohis aku bisa lebih menguatkan hafalanku.

Suatu hari ada insiden yang sangat menguatkan niatku. Menjelang kesenioran atau bisa disebut juga kenaikan jenjang dari junior menjadi senior, seangkatan mempersiapkan perlengkapan dan sehari sebelum kesenioran ada perlengkapan yang belum disiapkan. Aku bersedia menyiapkannya mengambilnya dari rumahku. Rumah ku jauh sedangkan hari itu sedang tidak membawa motor, jadi sesudah rapat “smf” aku meminjam motor milik temanku sambil mengajak temanku untuk ikut. Di jalan aku sangat mengharapkan sekali bisa ikut kesenioran, tapi Allah bertindak beda. Di dekat perempatan aku dikagetkan oleh seorang yang tiba-tiba menyeberang jalan. Stang kubanting dan aku pun terpental.


Saat bangun aku melihat semua orang menghampiri dan sebgian diantaranya ada yang marah. Seragamku ditetesi air berwarna merah dan sepion motor teman ku pecah. Untungnya sudah dekat dengan rumah dan temanku baik-baik saja. Menjelang maghrib temanku  pemilik motor datang bersama teman-tamanya dan sholat maghrib bersama di masjid dekat rumah. Tidak lama setelah mereka pergi, datanglah teman-temanku dari paskibra untuk menjengukku. Mereka masih memakai pakaian sekolah. Aku melihat betapa pedulinya mereka. Mereka semua mengharapkan aku bisa ikut kesenioran tetapi keadaan terbalik. Mungkin inilah pesan langsung dari Allah untukku. Untuk selalu menghafal dan mempertahankan amanah. Tentu saja aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.


Kelas 11. Mulai terasa nikmatnya meghafal. Hafalan semakin bertambah dan murajaah semakin mudah stiap saja aku melakukan suatu kegiatan selalu terasa ringan. Aku selalu membiasakan mengawali hariku dengan Al-Quran. Setiap pagi aku datang lebih dulu dibandingkat dengan yang lain. Dan yang sangat dibanggakan adalah nilaiku yang meningkat. Anehnya setiap kali lupa membaca quran ada yang aneh atau mengganjal bisa berbentuk suatu masalah atau yang lainnya. Tidak sempat di masjid maka dikelas pun jadi. Walaupun banyak cobaan yang datang yang penting Quran always in my heart.
-Jadilah engkau generasi Qurani-

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَطمَئنُّ قُلُوبُهُم بِذِكرِ ٱللَّهِ‌ أَلَا بِذِڪرِ ٱللَّهِ تَطمَئِٕنُّ ٱلقُلُوبُ
orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingati Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram. (Ar-Rad 13: 28)

2 komentar:

  1. sekarang hafalannya udah brp juz ka? aku dulu skolah di sma yang sama dengan kk, tapi baru 2bulan berjalan aku memutuskan untuk kluar...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah sudah 23. Masih proses menjaga

      Hapus