-Kisah
seorang anak SMA Negeri menghafal Al-Quran
Rasanya
memang berat untuk dihadapi tapi aku harus menjalaninya karena bisa jadi inilah
yang terbaik dari Allah. Aku teringat tentang firmannya pada pertengahan juz
dua yang berbunyi:
كُتِبَ عَلَيڪُمُ ٱلقِتَالُ
وَهُوَ كُرهٌ لَّكُم وَعَسَىٰٓ أَن تَكرَهُواْ شَيـًٔا وَهُوَ خَيرٌ لَّڪُم
وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّواْ شَيـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُم وَٱللَّهُ يَعلَمُ
وَأَنتُم لَا تَعلَمُونَ
“Diwajibkan
atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci.
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi
kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang
kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah 2: 216)
Banyak
orang yang mudah sekali menghafal quran. Aku menjadi iri kepada mereka walaupun
aku pun mampu menghafal dengan cepat tetapi kondisi berbeda saat menjelang UN,
teman-teman ku sibuk mencari sekolah untuk melanjutkan pendidikannya
masing-masing. Ada yang ingin melanjutkan menjadi seorang santri atau ada yang pindah ke pesantren lain dan
ada pula yang memilih sekolah negeri salah satunya adalah aku. Awalnya memang
bosan sekolah di pesantren dengan keadaannya yang selalu ditekan tapi aku suka
dengan pelajaran-pelajarannya. Ummiku bilang lebih baik melanjutkan pesantren
karena biayanya lebih murah dan sisanya bisa dipakai untuk ade masuk sekolah
tapi aku berpikir pindah pesantren biayanya mahal dan tapi melanjutkan di
pesantrenku saat ini lebih murah tapi lebih murah lagi apalagi aku masuk
negeri. Dari itulah aku termotivasi untuk membanggakan orang tua tapi orang tua
ku takut kalau aku terbawa arus keremajaan masa kini. Sebenarnya sih aku memang
mau bebas tapi aku akan berusaha menghindari semua itu. Pada hari penjengukan
aku bercakap-cakap dengan orang tuaku yang membuah hasil kan perizinan untuk
masuk sekola umum, masalahnya adalah sekolah favorit dan aku belum tentu akan
mendapatkan yang terbaik tapi semua itu urusan Allah dan aku tinggal berusaha
sekeras mungkin.
Hari-hari
menjelang UN kujalani dengan belajar penuh. Di atas kasur, di lorong asrama, di
masjid, di taman, di ruang makan, bahkan di kamar mandi aku bawa terus buku
demi tercapainya tujuan yang aku harapkan. Sudah menjadi hal yang biasa seorang
santri membawa buku kemana-mana. Saat makan pun mereka belajar bahkan saat
mengantri giliran mandi mereka belajar. Setiap malam kelas 9 selalu berada di
masjid untuk memurajaah pelajaran yang telah diajarkan oleh guru selama 3 tahun.
Aku bersama temanku seorang yang sangat alim belajar hingga larut malam dan
selalu diakhiri dengan sholat witir. Memang kebiasaan ku adalah mencari teman
yang pintar dan alim lagi perhatian kepada temannya. Aku mendapat banyak
pelajaran darinya, semua yang di ajarkan olehnya dapat ku cerna. Dia juga
mengajakku untuk berpuasa daud saat UN tetapi sebelumnya aku memang sudah
berniat puasa daud dari sebelum UN.
Ujian
nasional ku jalani dengan tenang dan semangat untuk mencapai tujuan. Walaupun
aku terbiasa mengerjakan ulangan sangat lama bahkan seringsekali setiap ujian
aku terakhir keluar tapi aku jalani dengan sabar yang penting nilai
alhamdulillah. Dan ketika nilai telah keluar, alhamdulillah aku mendapatkan
hasil yang memuaskan dan cukup untuk masuk sekolah negeri yang aku harapkan dan
dari langkah yang kuambilah aku mendapatkan cobaan yang lebih berat. Cobaan
yang bersangkutan dengan amanah dan juga kewajiaban. Hafalanku saat keluar dari
pesantren sudah 11 juz, sulit sekali mempertahankannya karena medan juang yang
berbeda dan penuh tantangan. Ada yang bilang apabila melihat lawan jenis maka
hafalan akan hilang, itulah yang membuatku takut dan penuh antisipasi terhadap
hal itu. Awalnya aku berpikir akan lebih bebas dibandingkan saat dipensantren.
Ternyata tidak, banyak sekali tugas yang di berikan oleh guru dan besar pula
amanah hafalan yang aku pikul. Tapi semua itu aku jalani dengan sabar karena
semua itu sudah rencana Allah dan itulah yang terbaik darinya. Sempat saja aku
melupakan hafalanku setelah agak lama aku duduk di SMA. Saat itu aku mengikuti
ekskul paskibra, awalnya aku kagum dengan anak-anaknya yang selalu tegas dan
ternyata ada temanku sekelas yang mengikuti ekskul paskibra mengajak ku ukntuk
bergabung. Ordikpun diadakan. Awalnya memang aku sudah tahu kalau itu ordik
tapi banyak temanku yang tidak mengetahui itu tapi memgamggap bahwa itu hanya kemping
biasa. Ordik aku jalani dengan semangat dan bismillah . Setelah resmi menjadi
anggota paskibra bukannya semakin lega tetapi semakin terjepit, mulai dari
tugas dan perintah senior yang datang bertubi-tubi entah kapan waktunya. Aku
berpikir bahwa yang aku ambil ini salah tapi aku lhat ke sisi lain banyak
sekali manfaat yang didapat tetapi aku mulai keteteran dan semakin terkikislah
hafalanku. Ada tiga atau dua juz yang lupa.
Hari-hari
kulewati dengan terus mempertahankan hafalanku, sekali-kali aku mencari waktu
untuk mengahafal walaupun bertentangan dengan perintah senior tetapi aku selalu
akan berusaha untuk tidak melanggar. Senior juga manusia dan mereka pasti punya
hati untuk mengerti dan selain guru mereka juga yang mendidik ku. Suatu hari
ada pertemuan bersama senior dan juga
alumni. Di saat susahnya aku menjaga hafalanku ada sepatah kata yang
terlontarkan dari seorang alumni yang hingga saat ini ku ingat.
“Hafiz di
pesantren itu biasa tapi menjadi seorang hafiz di luar (pesantren) itu luar
biasa”.
Begitulah
kata-katanya dan aku mulai bersemangat menjadi seorang hafiz walaupun banyak
cobaan yang akan menghadang.
Sebentar kita
tinggalkan masalah ekskul. Dari semenjak SMP aku memang susah belajar kecuali
ada teman yang memang perhatian dan bersedia untuk membantu. Di kelas 10 aku
selalu saja mendapat nilai jelek. Sekali atau dua kali saja aku mendapat nilai
yang lumayan, tapi itu semua bukan menjadi penyesalan tetapi motivasi untuk
bangkit. Aku sadar mengapa nilaiku turun, dan itu disebabkan karena aku
mekinggalkan hafalan ku. Memang banyak sekali hafalan yang aku tinggalkan.
Ketika hari pembagian rapot menjelang, aku menunggu nilai hasil belajarku dan
ternyata semuanya jelek. Orang tuaku hanya diam dan tidak memarahi tetapi
dirikulah yang memarahi. Aku bertanya-tanya kenapa bisa seperti ini? Kenapa
bisa aku selemah ini? Apakah ada masalah dengan imanku? Apakah ini salah
scanner atau gurunya? Tapi aku ingat perkataan mentor ku
“Proaktif!!
Jangan salahkan orang lain tapi lihatlah diri sendiri”
Dengan bismillah
aku rubah semua yang jelek dalam diriku aku buat kebiasaan baru yang antimeinstream
dikalangan remaja SMA. Seringkali aku menghafal membaca quran di kelas,
untungnya tidak jadi perhatian banyak orang tapi malah banyak yang mengikuti.
Ya memang tidak jadi perhatian sekelas karena aku menghafal tidak dibaca dan
tidak ketahuan oleh banyak orang sedangkan orang yang membaca quran dengan cara
melihatnya ia akan terfokus dan orang lain akan memperhatikannya. Itulah
menjadikanku bersemangat karena sifat teman yang mendukung. Setiap sore selepas
ashar aku juga sering duduk-duduk menyindiri di lantai empat masjid sekolahku
sambil murajaah. Menghafal butuh ketenangan dan di lantai empat masjidlah aku
menemukannya suasana yang sejuk dan juga bisa melihat banyak orang yang sedang
melakukan kegiatan ekskulnya. Dengan kesibukan inilah aku bisa menghindari
virus yang meraja rela dikalangan remaja, bisa dikenal dengan sebutan virus
“merah jambu”. Aku memang beranggapan apa guananya pacaran kalau jodoh sudah
ditentukan dan apa gunanya pacaran jika mengharapkan wanita yang sholihah sedangkan
tidak ada wanita sholihah yang pacaran karena dia tau betul kedudukannya dan
selalu menjaga izzahnya.
SMAku ini berbeda
dari SMA lain, bisa juga disamakan dengan pesantren karena rohisnya yang aktif dan dari rohis itulah aku
tergerak. Banyak teman-temanku yang lebih pintar dariku dalam hal agama. Ngga
salah, emang aku di pesantren anak bandel yang selalu melanggar peraturan. Dari
mulai shiroh nabi hingga hadits mereka hafal. Tidak hanya itu karena ini adalah
sekolah yang dianggap unggulan, mereka juga maju dalam akademik pelajaran umum.
Kegiatanku di rohis membuat aku semakin meninggalkan kegiatan di ekskulku. Si
rohis aku bisa lebih menguatkan hafalanku.
Suatu hari ada
insiden yang sangat menguatkan niatku. Menjelang kesenioran atau bisa disebut
juga kenaikan jenjang dari junior menjadi senior, seangkatan mempersiapkan
perlengkapan dan sehari sebelum kesenioran ada perlengkapan yang belum
disiapkan. Aku bersedia menyiapkannya mengambilnya dari rumahku. Rumah ku jauh
sedangkan hari itu sedang tidak membawa motor, jadi sesudah rapat “smf” aku
meminjam motor milik temanku sambil mengajak temanku untuk ikut. Di jalan aku
sangat mengharapkan sekali bisa ikut kesenioran, tapi Allah bertindak beda. Di
dekat perempatan aku dikagetkan oleh seorang yang tiba-tiba menyeberang jalan.
Stang kubanting dan aku pun terpental.
Saat bangun aku
melihat semua orang menghampiri dan sebgian diantaranya ada yang marah.
Seragamku ditetesi air berwarna merah dan sepion motor teman ku pecah.
Untungnya sudah dekat dengan rumah dan temanku baik-baik saja. Menjelang
maghrib temanku pemilik motor datang
bersama teman-tamanya dan sholat maghrib bersama di masjid dekat rumah. Tidak
lama setelah mereka pergi, datanglah teman-temanku dari paskibra untuk
menjengukku. Mereka masih memakai pakaian sekolah. Aku melihat betapa pedulinya
mereka. Mereka semua mengharapkan aku bisa ikut kesenioran tetapi keadaan
terbalik. Mungkin inilah pesan langsung dari Allah untukku. Untuk selalu
menghafal dan mempertahankan amanah. Tentu saja aku tidak akan menyia-nyiakan
kesempatan ini.
Kelas 11. Mulai
terasa nikmatnya meghafal. Hafalan semakin bertambah dan murajaah semakin mudah
stiap saja aku melakukan suatu kegiatan selalu terasa ringan. Aku selalu
membiasakan mengawali hariku dengan Al-Quran. Setiap pagi aku datang lebih dulu
dibandingkat dengan yang lain. Dan yang sangat dibanggakan adalah nilaiku yang
meningkat. Anehnya setiap kali lupa membaca quran ada yang aneh atau mengganjal
bisa berbentuk suatu masalah atau yang lainnya. Tidak sempat di masjid maka
dikelas pun jadi. Walaupun banyak cobaan yang datang yang penting Quran
always in my heart.
-Jadilah engkau
generasi Qurani-
ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ
وَتَطمَئنُّ قُلُوبُهُم بِذِكرِ ٱللَّهِ أَلَا بِذِڪرِ ٱللَّهِ تَطمَئِٕنُّ
ٱلقُلُوبُ
orang-orang
yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingati Allah.
Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram. (Ar-Rad 13:
28)

sekarang hafalannya udah brp juz ka? aku dulu skolah di sma yang sama dengan kk, tapi baru 2bulan berjalan aku memutuskan untuk kluar...
BalasHapusAlhamdulillah sudah 23. Masih proses menjaga
Hapus